2 bulan yang lalu
Sudah dua bulan aku dengan lelaki yang ini. Lagi-lagi, dia sudah beristri. Kenapa aku selalu jatuh cinta pada lelaki beristri? Apakah karena mereka sudah menikah, mereka lebih menarik? Mereka mapan, independen, dan karena mereka telah menikah, mereka mempunyai bukti mereka bisa diandalkan untuk hubungan yang lebih dari pada hanya pacaran.
Beberapa minggu yang lalu, aku melihat istrinya. Kaget, walaupun seharusnya tidak. Aku sengaja datang ke tempat itu untuk melihatnya. Dalam penilaianku, istrinya biasa-biasa saja. Tidak cantik, tidak jelek, tidak modis, tidak gembel pula. Sebelum aku pergi hari itu, aku bertanya-tanya seperti apa perasaanku nanti ketika melihat istrinya. Apakah aku akan merasa bersalah? Benci? Iri? Ternyata, aku salah besar. Aku tidak merasa apa-apa. Penilaianku akan istrinya datar, tanpa perasaan. Hanya ada suatu rasa familiar yang menyerangku, sepertinya aku telah mengenalnya begitu lama tapi baru kali ini bertemu.
Kemarin si lelaki membawaku pulang ke rumahnya. Istri dan anak-anaknya sedang keluar kota. Aku menolak tidur di kamar tidur yang dia biasanya pakai dengan istrinya. Bukan karena aku merasa bersalah, hanya rasa tidak enak saja terhadap istrinya. Karena aku tidak akan mau diperlakukan begitu kalau aku jadi si istri. Akhirnya aku tidur di kamar anaknya yang sulung. Tetapi aku masih merasa aneh. Kamar itu berbau bedak bayi, spreinya merah muda, dindingnya putih. Biarpun kamar itu kamar anaknya, tapi aku tahu, istrinyalah yang menyiapkan kamar itu untuk si anak. Istrinyalah yang memilih warna dinding dan membeli sprei. Rasa bersalah mulai menyebar di benakku. Aku pindah. Dan malam itu, aku tidur di sofa, dalam pelukan si lelaki.
Beberapa minggu yang lalu, aku melihat istrinya. Kaget, walaupun seharusnya tidak. Aku sengaja datang ke tempat itu untuk melihatnya. Dalam penilaianku, istrinya biasa-biasa saja. Tidak cantik, tidak jelek, tidak modis, tidak gembel pula. Sebelum aku pergi hari itu, aku bertanya-tanya seperti apa perasaanku nanti ketika melihat istrinya. Apakah aku akan merasa bersalah? Benci? Iri? Ternyata, aku salah besar. Aku tidak merasa apa-apa. Penilaianku akan istrinya datar, tanpa perasaan. Hanya ada suatu rasa familiar yang menyerangku, sepertinya aku telah mengenalnya begitu lama tapi baru kali ini bertemu.
Kemarin si lelaki membawaku pulang ke rumahnya. Istri dan anak-anaknya sedang keluar kota. Aku menolak tidur di kamar tidur yang dia biasanya pakai dengan istrinya. Bukan karena aku merasa bersalah, hanya rasa tidak enak saja terhadap istrinya. Karena aku tidak akan mau diperlakukan begitu kalau aku jadi si istri. Akhirnya aku tidur di kamar anaknya yang sulung. Tetapi aku masih merasa aneh. Kamar itu berbau bedak bayi, spreinya merah muda, dindingnya putih. Biarpun kamar itu kamar anaknya, tapi aku tahu, istrinyalah yang menyiapkan kamar itu untuk si anak. Istrinyalah yang memilih warna dinding dan membeli sprei. Rasa bersalah mulai menyebar di benakku. Aku pindah. Dan malam itu, aku tidur di sofa, dalam pelukan si lelaki.

<< Home