Sunday, October 15, 2006

bangun!

Ingin aku hapus kesedihanmu. Tak tahan aku melihatmu menangis. Ingin rasanya kubunuh penyebab kesedihanmu tapi apa daya. Sebabnya pun tak jelas.

Kesedihanmu menular. Hatiku sedih. Ingin aku menangis bersamamu tapi mataku kering.

Berjam-jam kita bicara. Tapi tak ada solusi. Jalan buntu. Habis sudah. Panas kupingku mendengar ucapanmu yang itu-itu saja. Ingin aku teriak, supaya kau bangun dari kesedihanmu yang berkepanjangan.

Aku bosan. Aku letih. Tak tahan dengan dirimu yang menyerap dan membunuh semua rasa senangku. Ketika aku bersamamu, yang ada hanya kesedihan. Kesedihanmu menaungi semua orang yang dekat denganmu. Seperti orang sakit lepra. Kaulah si penyebar.

Tak pernahkah kau tanyakan dirimu, kenapa makin lama makin banyak teman-temanmu yang menghilang? Aku rasa mereka sama sepertiku, jenuh dengan kesedihanmu.

Aku rasa kau senang dalam kesedihanmu. Karena ketika kau sedih, kau mendapat perhatian dari orang-orang. Dan kesedihanmu adalah temanmu yang paling baik didunia ini.

Dan aku akan pergi. Meninggalkanmu dengan kesedihanmu. Sampai kau sadar kesedihanmu membawa petaka.