Friday, May 05, 2006

Memar

Rasanya mau mati saja.

Sekali lagi kau sedang mencoba untuk mematahkan hatiku. Mematahkannya kemudian kau pungut bagian-bagian dari hatiku, dan kau lem satu persatu. Semua itu kau lakukan hingga akhirnya aku kehilangan semua keberanianku. Sehingga aku tunduk padamu dan memenuhi kriteriamu tentang pacar yang menurut dan hormat.

Seandainya kau memukulku, mungkin akan ada bekas yang aku bisa perlihatkan teman-temanku. Tapi memar di hati tidak bisa diperlihatkan. Dan aku sudah tidak tahu lagi bagaimana.

Apakah itu masih bisa disebut cinta. Ya, aku mencintaimu, tapi aku tak tahu berapa lama aku bisa bertahan. Pacaran denganmu seperti berpacaran dengan bom waktu, tapi bedanya, aku tak pernah tahu kapan kau akan meledak.

Kau tega. Tega sekali. Ketika aku mengancam akan bunuh diri, baru kau maafkan aku. Tapi semua itu, akhirnya pun akan buyar. Bagaimanapun serapihnya kau melem hatiku kembali, serpihan-serpihan halus yang hilang tak akan pernah kembali.

Dan aku lelah akan permainanmu. Tak ada habis-habisnya.