Telepon
'Sebentar yah, aku mau telepon dia dulu,' katanya sebelum meninggalkan Midie dan masuk ke kamarnya.
Dia. Tidak perlu dikatakan siapa. Hanya kata itu pun sudah menjelaskan semuanya untuk Midie. Dia. Pacarnya. Pacar resminya.
Ketika lelaki itu kembali setengah jam kemudian, Midie bertanya sambil berusaha menyembunyikan perasaannya sesungguhnya, 'Kenapa? Dia lagi marah yah sama kamu?'
'Ngak. Kenapa tanya begitu?'
'Soalnya aku tadi lihat dia online and nicknamenya tuh aneh.'
'Aneh gimana?'
'Yah, dia tulis nicknamenya Mencari Jawaban.'
'Ngak lah. Kamu parno aja kali. Ngapain dia marah sama aku.'
Midie jalan mendekati lelaki itu yang sedang duduk di sofa kemudian duduk dipangkuan lelaki itu sambil memeluknya erat. Otomatis kedua tangan si lelaki merangkul pinggang Midie. Midie mencium pipi lelaki itu and berbisik ditelinganya, 'Dia marah sama kamu karena kamu...fucking another girl.'
Lelaki itu tersenyum lalu mengangkatnya ke arah tempat tidur sambil berkata, 'Aku...making love to my future wife.'
Dia. Tidak perlu dikatakan siapa. Hanya kata itu pun sudah menjelaskan semuanya untuk Midie. Dia. Pacarnya. Pacar resminya.
Ketika lelaki itu kembali setengah jam kemudian, Midie bertanya sambil berusaha menyembunyikan perasaannya sesungguhnya, 'Kenapa? Dia lagi marah yah sama kamu?'
'Ngak. Kenapa tanya begitu?'
'Soalnya aku tadi lihat dia online and nicknamenya tuh aneh.'
'Aneh gimana?'
'Yah, dia tulis nicknamenya Mencari Jawaban.'
'Ngak lah. Kamu parno aja kali. Ngapain dia marah sama aku.'
Midie jalan mendekati lelaki itu yang sedang duduk di sofa kemudian duduk dipangkuan lelaki itu sambil memeluknya erat. Otomatis kedua tangan si lelaki merangkul pinggang Midie. Midie mencium pipi lelaki itu and berbisik ditelinganya, 'Dia marah sama kamu karena kamu...fucking another girl.'
Lelaki itu tersenyum lalu mengangkatnya ke arah tempat tidur sambil berkata, 'Aku...making love to my future wife.'

<< Home