Komitmen
Kalau orang bertunangan untuk menikah, apakah itu lebih serius dibandingkan dengan orang yang berpacaran untuk menikah? Sepertinya cuma status tetapi mungkin ada yang lebih dari status itu.
Midie mulai berpikir bahwa hubungannya dengan si lelaki itu mulai berkembang. Setiap harinya pasti si lelaki itu membicarakan soal menikah. Soal kawin. Soal membina rumah tangga dengan Midie. Soal mempunyai tiga anak dengan Midie.
Memang mereka tidak bertunangan, berpacaran pun mereka tidak karena Midie cuma selingkuhan. Tetapi Midie mulai merasa sesak nafas dan terbelenggu dengan omongan-omongan itu. Setiap kali si lelaki itu mulai membicarakan hal-hal itu Midie cuma bisa tersenyum. Dia mencoba untuk tidak mematahkan harapan lelaki itu tetapi dia tidak juga berusaha untuk memberi semangat. Sekarang ini semuanya tidak pasti. Semua rencana-rencana yang disebutkan lelaki itu sepertinya dibangun diatas fondasi yang lemah karena tidak ada kepastian.
Midie berpikir apakah senyum bisunya menandakan komitmen? Apakah dengan begitu dia menyetujui rencana-rencana itu? Akh, segalanya tidak pasti. Pusing kepala Midie memikirkan semua itu. Midie bingung mengapa dia tidak bisa memastikan perasaannya. Semuanya serba tidak pasti.
Memang Midie sudah tidak muda lagi. Lebih dari cukup tua untuk mulai membina rumah tangga. Sudah beberapa tahun Ibunya mulai memberi tanda-tanda bahwa ia ingin Midie cepat mempunyai suami dan memberinya cucu.
"Ibu nih sudah tidak muda lagi loh Mid. Kamu juga sudah siap kan untuk menikah. Cari dong pacar, jangan cuma kerja aja yang dipikirin. Anak Ibu kan cuma kamu satu-satunya. Ibu mau ngemong cucu sebelum Ibu dipanggil."
Midie cuma bisa tersenyum dan berkata, "Sabar Bu. Kan ngak gampang cari pacar yang baik. Nanti kalo buru-buru malah dapet calon suami yang ngak bonafid lagi. Lagian Ibu kan baru 50 tahun, belom tua. Ibu sehat."
Kemudian Midie cepat-cepat pergi, berangkat kerja.
Midie mulai berpikir bahwa hubungannya dengan si lelaki itu mulai berkembang. Setiap harinya pasti si lelaki itu membicarakan soal menikah. Soal kawin. Soal membina rumah tangga dengan Midie. Soal mempunyai tiga anak dengan Midie.
Memang mereka tidak bertunangan, berpacaran pun mereka tidak karena Midie cuma selingkuhan. Tetapi Midie mulai merasa sesak nafas dan terbelenggu dengan omongan-omongan itu. Setiap kali si lelaki itu mulai membicarakan hal-hal itu Midie cuma bisa tersenyum. Dia mencoba untuk tidak mematahkan harapan lelaki itu tetapi dia tidak juga berusaha untuk memberi semangat. Sekarang ini semuanya tidak pasti. Semua rencana-rencana yang disebutkan lelaki itu sepertinya dibangun diatas fondasi yang lemah karena tidak ada kepastian.
Midie berpikir apakah senyum bisunya menandakan komitmen? Apakah dengan begitu dia menyetujui rencana-rencana itu? Akh, segalanya tidak pasti. Pusing kepala Midie memikirkan semua itu. Midie bingung mengapa dia tidak bisa memastikan perasaannya. Semuanya serba tidak pasti.
Memang Midie sudah tidak muda lagi. Lebih dari cukup tua untuk mulai membina rumah tangga. Sudah beberapa tahun Ibunya mulai memberi tanda-tanda bahwa ia ingin Midie cepat mempunyai suami dan memberinya cucu.
"Ibu nih sudah tidak muda lagi loh Mid. Kamu juga sudah siap kan untuk menikah. Cari dong pacar, jangan cuma kerja aja yang dipikirin. Anak Ibu kan cuma kamu satu-satunya. Ibu mau ngemong cucu sebelum Ibu dipanggil."
Midie cuma bisa tersenyum dan berkata, "Sabar Bu. Kan ngak gampang cari pacar yang baik. Nanti kalo buru-buru malah dapet calon suami yang ngak bonafid lagi. Lagian Ibu kan baru 50 tahun, belom tua. Ibu sehat."
Kemudian Midie cepat-cepat pergi, berangkat kerja.

<< Home