Wednesday, January 10, 2007

2 bulan yang lalu

Sudah dua bulan aku dengan lelaki yang ini. Lagi-lagi, dia sudah beristri. Kenapa aku selalu jatuh cinta pada lelaki beristri? Apakah karena mereka sudah menikah, mereka lebih menarik? Mereka mapan, independen, dan karena mereka telah menikah, mereka mempunyai bukti mereka bisa diandalkan untuk hubungan yang lebih dari pada hanya pacaran.
Beberapa minggu yang lalu, aku melihat istrinya. Kaget, walaupun seharusnya tidak. Aku sengaja datang ke tempat itu untuk melihatnya. Dalam penilaianku, istrinya biasa-biasa saja. Tidak cantik, tidak jelek, tidak modis, tidak gembel pula. Sebelum aku pergi hari itu, aku bertanya-tanya seperti apa perasaanku nanti ketika melihat istrinya. Apakah aku akan merasa bersalah? Benci? Iri? Ternyata, aku salah besar. Aku tidak merasa apa-apa. Penilaianku akan istrinya datar, tanpa perasaan. Hanya ada suatu rasa familiar yang menyerangku, sepertinya aku telah mengenalnya begitu lama tapi baru kali ini bertemu.
Kemarin si lelaki membawaku pulang ke rumahnya. Istri dan anak-anaknya sedang keluar kota. Aku menolak tidur di kamar tidur yang dia biasanya pakai dengan istrinya. Bukan karena aku merasa bersalah, hanya rasa tidak enak saja terhadap istrinya. Karena aku tidak akan mau diperlakukan begitu kalau aku jadi si istri. Akhirnya aku tidur di kamar anaknya yang sulung. Tetapi aku masih merasa aneh. Kamar itu berbau bedak bayi, spreinya merah muda, dindingnya putih. Biarpun kamar itu kamar anaknya, tapi aku tahu, istrinyalah yang menyiapkan kamar itu untuk si anak. Istrinyalah yang memilih warna dinding dan membeli sprei. Rasa bersalah mulai menyebar di benakku. Aku pindah. Dan malam itu, aku tidur di sofa, dalam pelukan si lelaki.

Tuesday, October 31, 2006

Tai

Tai anjing, babi, kucing, taiiiii!!!!

Cuih! Ludahku ke mukamu yang jelek seperti tai!

Aku benci kamu! Ingin aku membuatmu sengsara.

Sunday, October 15, 2006

bangun!

Ingin aku hapus kesedihanmu. Tak tahan aku melihatmu menangis. Ingin rasanya kubunuh penyebab kesedihanmu tapi apa daya. Sebabnya pun tak jelas.

Kesedihanmu menular. Hatiku sedih. Ingin aku menangis bersamamu tapi mataku kering.

Berjam-jam kita bicara. Tapi tak ada solusi. Jalan buntu. Habis sudah. Panas kupingku mendengar ucapanmu yang itu-itu saja. Ingin aku teriak, supaya kau bangun dari kesedihanmu yang berkepanjangan.

Aku bosan. Aku letih. Tak tahan dengan dirimu yang menyerap dan membunuh semua rasa senangku. Ketika aku bersamamu, yang ada hanya kesedihan. Kesedihanmu menaungi semua orang yang dekat denganmu. Seperti orang sakit lepra. Kaulah si penyebar.

Tak pernahkah kau tanyakan dirimu, kenapa makin lama makin banyak teman-temanmu yang menghilang? Aku rasa mereka sama sepertiku, jenuh dengan kesedihanmu.

Aku rasa kau senang dalam kesedihanmu. Karena ketika kau sedih, kau mendapat perhatian dari orang-orang. Dan kesedihanmu adalah temanmu yang paling baik didunia ini.

Dan aku akan pergi. Meninggalkanmu dengan kesedihanmu. Sampai kau sadar kesedihanmu membawa petaka.

Sunday, October 01, 2006

aku

orang bilang aku cantik
setiap hari kupandangi cermin, kucari keriput yang tidak ada, kerutan yang tidak tampak, cacat yang hampa

orang bilang aku seksi
setiap hari kuperiksa tubuhku, telanjang tanpa busana, lekukan yang dalam, yang menonjol, yang menyatu menjadi satu titik kenikmatan

orang bilang aku pintar
orang bilang aku bisa menjadi apa pun yang aku mau asalkan aku bekerja keras
orang bilang aku seharusnya melakukan lebih dengan hidupku
orang bilang aku menyia-nyiakan hidupku

persetan
orang tidak tahu apa-apa
karena jika dunia kiamat, aku akan berdiri sendiri
dalam kepompong yang telah kubangun
didalam diriku sendiri
didalam otakku yang pintar
tersembunyi dalam tubuhku yang seksi
dibelakang mukaku yang cantik

pada akhirnya, yang ada hanyalah aku dan tuhanku

Thursday, September 14, 2006

Lagi

Ketika aku melihat namamu di layar hp, aku tertegun. Jawab? Atau biarkan saja?

Antara kedua pilihan itu, hasil akhirnya akan sangat berbeda. Kalau ku jawab, itu berarti kau akan datang menjemputku dan kita akan...

Kalau kubiarkan, hidupku akan berlanjut seperti biasa, membosankan dan sepi.

Aku menyerah. Dering hp mulai mengganggu.

"Hallo..."

"Hi...ini aku. Lagi ngapain?"

"Ga ngapa-ngapain. Dirumah aja, nonton TV."

"Oh...mau pergi ngak? Aku bosan nih."

"Mm, kapan?"

"Aku langsung ke rumah kamu sekarang. Paling setengah jam."

"Ok. Aku siap-siap sekarang."

"Ok. Dah."

Jantungku berdetak kencang. Perasaanku campur aduk. Antara senang, excited, dan rasa bersalah. Tak tahu sampai kapan akan seperti ini. Salah, tapi menyenangkan. Dosa, tapi nikmat.
Sampai kapan akan seperti ini?

Monday, August 07, 2006

Yakin

"Cinta itu harus yakin. Kalau tidak yakin, itu bukan cinta. Itu nafsu." Begitu ceramah si peninggi agama itu.

Aku bertanya, "Jadi, apakah saya ini cinta atau nafsu Pak?"

"Kamu yakin tidak?" dia balik bertanya.

"Ummm..kadang yakin. Kadang tidak. Saya juga kurang tahu." Jawabku.

"Berarti kamu belum yakin..."

Aku memotong, "Tapi saya tidak mau kalau dibilang saya nafsu saja Pak. Kalau nafsu bukannya sesuatu yang negatif? Yang tidak baik? Saya tidak mau dicap seperti itu Pak."

"Yah, tergantung bagaimana kamu melihatnya. Yang dimaksud nafsu ini bukan cuma secara fisik. Tapi juga nafsu mengenai hal-hal lain." Dia menjelaskan lebih lanjut.

"Contohnya Pak?" Aku balas bertanya.

"Nafsu untuk memiliki, untuk mendapatkan status diantara teman-teman karena kamu sudah punya pacar, nafsu untuk mempunyai seseorang yang bisa mengajakmu jalan-jalan Sabtu malam. Seperti itulah."

"Kalau begitu saya nafsu secara fisik saja deh Pak. Sepertinya lebih gampang untuk dijelaskan. Dan sepertinya nafsu fisik itu lebih normal daripada nafsu-nafsu yang lain." Jawabku enteng.

Peninggi agama itu tidak senang mendengar jawabanku. Dia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkanku tanpa bicara. Aku termenung.

"Ah ini sampah."

Sunday, July 23, 2006

Friendship 2

Akhirnya terjadi.

Blog ini cuma akan diisi oleh satu orang. Yang dua lagi? Entah kemana. Tidak mau perduli. Mereka pengecut.

Teman? Apa itu? Aku benci. Sebal.

Mereka pengecut karena mereka tidak berani menyatakan perasaan mereka. Aku tidak mau terlibat ditengah-tengah. Biarkan persahabatan mereka retak, aku lepas tangan. Sudah cukup segala hal yang telah aku lakukan untuk menyatukan mereka. Dan aku tidak rela menjadi hal yang bisa dimenangkan. Lebih baik aku tidak sama sekali.

Good bye.